Renungan Harian

Menjadi ‘Kurban’ bersama Yesus

Menjadi ‘Kurban’ bersama Yesus

Hari Rabu dalam Pekan Biasa VIII

Bacaan I: 1 Ptr. 1:18-25
Injil: Mrk 10:32-45

Bacaan-bacaan suci hari ini mengajak kita untuk merenungkan komitmen kita dalam mengikuti Yesus. Berikut beberapa poin yang bisa kita refleksikan.

  1. Dalam bacaan pertama, rasul Petrus merefleksikan landasan dasar dari perintah untuk saling mengasihi. Tindakan saling mengasihi antar sesama berakar pada inisiatif Allah sendiri dalam diri Putra-Nya. Darah Yesus yang tertumpah untuk menebus manusia adalah model kasih yang paling radikal. Petrus mengajak kita untuk saling mengasihi (menjadi kurban) satu sama lain karena kita telah lebih dahulu dikasihi dengan seutuhnya oleh Kristus sendiri. Kita mulai dari konteks kita yang paling sederhana yakni keluarga. Sudahkah kita menjadi kurban bagi suami/istri, anak-anak atau orang tua kita; dengan bertanggung jawab secara sungguh dalam peran kita masing-masing?
  2. Kisah Injil hari ini mengajak kita untuk melihat benturan-benturan yang akan kita hadapi ketika kita berkomitmen untuk menjadi kurban bagi sesama. Ada dua hal yang penting diperhatikan di bagian ini:
    Pertama, Di bagian awal perikop disebukan kata ‘cemas’ dan ‘takut’. Dua kata ini disematkan pada para pengikut Yesus yang sedang berjalan menuju Yerusalem. Ketakutan itu bukan tanpa sebab. Yesus sendiri merevelasi apa yang akan terjadi pada diri-Nya. Kengerian rupanya membayangi para murid. Mereka telah meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus. Dan upahnya adalah menjadi saksi kematian dan mungkin mati bersama Sang Guru? Inilah benturan pertama; penderitaan. Keberanian untuk menderita seperti Yesus boleh dikatakan sebagai jalan masuk untuk mengasihi secara utuh. Dan sebagai murid Kristus, harus kita akui bahwa kita sering menghindari rasa sakit dan penderitaan. Sanggupkah kita menderita untuk mengasihi secara utuh seperti Yesus?
    Kedua, di tengah perjalanan itu, Yakobus dan Yohanes meminta ‘jatah’ dari Yesus. Mereka meminta kursi/tahta. Di situ tersamar keinginan manusia akan rasa nyaman, penuntutan rewad atas usaha-usaha pribadi, pencarian dan penjaminan masa depan yang ‘instan’. Kalau diteliti dengan saksama inilah akibat dari ketakutan akan penderitaan tadi. Inilah benturan kedua; berlindung dalam rasa nyaman.

Sebagai pengikut Kristus kita pernah berada dalam situasi tersebut. Bahkan boleh dikatakan bahwa kita terus-menerus berlari kepada jebakan-jebakan itu; menghindari penderitaan, dan berlindung pada kenyamanan-kenyamanan tertentu.

Hari ini Yesus mengajak kita untuk berjalan bersama Dia ke Yerusalem. Kita pergi untuk menderita dan mempersatukan kurban-kurban harian kita bersama Dia. Ujung dari penderitaan itu bukanlah kebinasaan melainkan kebangkitan dan kehidupan kekal. Itulah upah yang tidak bisa diberikan oleh dunia ini. Tuhan memberkati.

Loading

Sebarkan Renungan ini!

Luangkan Waktu untuk Tuhan Hari Ini

Ambil sejenak waktu hening. Serahkan segala pergumulan, harapan, dan syukur Anda kepada Tuhan.